SELAMAT DATANG SAHABATKU TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA

Tanah Laterit

00.12 |

Tanah laterit adalah tanah tidak subur yang tadinya subur dan kaya akan unsur hara, namun unsur hara tersebut hilang karena larut dibawa oleh air hujan yang tinggi. Tanah laterit merupakan tanah yang kaya akan seskuioksida dan telah mengalami pelapukan yang lanjut. Tanah mineral ini miskin akan mineral-mineral dan mudah lapuk serta kandungan mineral resisten sangat tinggi dan KPK tanah sangat rendah. Penyebaran tanah ini di Indonesia diperkirakan 8.085 juta ha yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian Jaya, dan Jawa. Karena tanah ini merupakan tanah mineral yang kaya akan seskuioksida maka, tanah ini mempunyai muatan positif dan didominasi oleh liat aktivasi rendah.
Tanah laterit dicirikan oleh adanya horison oxic pada kedalaman kurang dari 1,5 m atau memilki horison candic yang jumlah mineral mudah lapuk memenuhi syarat horison oxic. Tanah ini memiliki sifat-sifat khusus seperti cadangan hara yang sangat rendah, kesuburan alami sangat rendah, kandungan Al didapat tinggi, permeabilitas baik, dan tahan terhadap erosi. Walaupun demikian beberapa jenis tanah ini (Laterit/Oxisols) misalnya dari great group Eutrotrorrox, memilki kejenuhan basa tinggi di seluruhan profilnya.

Ciri-ciri tanah ini secara garis besar yaitu :
  • CH intensif, sehinggga drainase intensif
  • Memiliki solum 10-20 m
  • Memiliki nilai Chroma dan Value tinggi
  • Perkembangan horison lanjut
  • pH tanah masam
  • Kadar lempung tinggi, tipe 1:1 (kaolinit)
  • KB dan KPK rendah
  • Kadar BO rendah
  • Kurang baik untuk pertanian
 
Curah hujan yang tinggi (basah atau lembab) dan didukung temperatur yang tinggi menyebabkan gaya-gaya perkembangan tanah di daerah tropika lebih cepat dan lebih intensif akibat pertumbuhan yang lebat. Temperatur yang tinggi mempercepat proses mineralisasi bahan organik yang dapat mengimbangi proses humifikasi, sehingga terbentuk CO2 dan H2O.

Zat-zat ini selanjutnya mempercepat proses dekomposisi batuan-batuan, dan juga silikat Al dan Fe dengan melarutkan ion basa seperti K, Ca, Na, dan Mg. Tak adanya proses gleisasi mempertinggi intensitas pelarutan basa. Adanya basa-basa sebagai kation menjadikan laarutan tanah beraksi basa.

Intensifnya perkembangan tanah di daerah tropika basah menyebabkan terbentuknya tanah Laterit memiliki solum yang sangat dalam. Tanah-tanah ini dapat berkembang dari macam-macam bahan induk, seperti batuan beku granit, basalt, batu pasir dan andesit. Perbedaan sifat dan jenis batuan induk dpat dihilangkan oleh kegiatan proses perkembangan tanah, sehingga hasilnya hampir serupa yaitu pada tanah berwarna merah, merah kuning, atau merah cokelat yang mengandung sebagian besar lempung silikat kaolinit (1:1) yang memilki sifat-sifat koloid rendah, dan reaksinya masam karena sebagian besar basanya telah tercampur.
 
Pada keadaan lembab, tanah laterit mudah dipotong dengan sekop menjadi bentuk-bentuk bata. Ketika terkena udara, laterit akan mulai mengeras karena kelembaban di antara partikel-partikel lempungnya menguap dan garam-garam besi membentuk struktur yang kaku sehingga rentan terhadap kondisi atmosfer.

Tanah laterit pada zaman dahulu lebih sering dimanfaatkan sebagai bahan pembuat bata. Sifatnya yang gampang dipotong ketika lembab dan akan mengeras setelah terkena udara tersebut mungkin yang menyebabkan tanah ini menjadi bahan yang paling sering dipakai untuk membuat bata. Saat sekarang tanah laterit sudah mulai dimanfaatkan untuk lahan pertanian. Pengolahan lahan dengan menggunakan tekhnik-tekhnik tertentu membuat lahan ini bisa dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.

1 komentar:

raden hilman mengatakan...

IZIN COPAS YA BUAT TUGAS GEOGRAFI, MAKASIH BANYAL

Poskan Komentar